Tuesday, September 22, 2026

 Menyambut Musim Baru: Pelantikan Majelis Jemaat GKMI Progo Periode 2026–2029

"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya."Pengkhotbah 3:1

Sebuah estafet pelayanan kembali digulirkan dengan penuh rasa syukur. Pada Kebaktian Umum hari Minggu, 20 September 2026, GKMI Progo menandai momen bersejarah melalui Peneguhan dan Pelantikan Penatua serta Diaken – Majelis Jemaat untuk periode pelayanan 2026–2029.

Ibadah peneguhan yang dilayani oleh Pdt. Nemueli Zega, S.Th. ini bukan sekadar rutinitas pergantian kepengurusan, melainkan momentum komitmen bersama untuk memasuki musim pelayanan yang baru, lincah, dan berdampak.

Renungan Tema: "Dipanggil untuk Melayani, Diperlengkapi oleh Anugerah"

(Refleksi Alkitabiah berdasarkan Kejadian 9:18–29)

Pelantikan Majelis Jemaat GKMI Progo Periode 2026–2029 dinaungi oleh sebuah tema yang sangat mendalam: "Dipanggil untuk Melayani, Diperlengkapi oleh Anugerah". Perikop Kejadian 9:18–29 memberikan kita gambaran yang jujur dan relevan mengenai kepemimpinan dan penatalayanan dalam rumah Tuhan.

1. Keterbatasan Manusia dan Kasih yang Menutupi (Agape)

Kisah Nuh setelah air bah mengingatkan kita bahwa tidak ada pemimpin atau pelayan Tuhan yang sempurna. Nuh—seorang hamba yang dipakai Tuhan secara luar biasa—tetaplah manusia biasa yang memiliki titik lemah dan keterbatasan. Ketika kelemahan Nuh terlihat, timbul dua respon yang sangat bertolak belakang:

  • Ham memilih untuk mengekspos dan membicarakan kelemahan tersebut.
  • Sem dan Yafet memilih untuk berjalan mundur sambil membentangkan kain untuk menutupi kelemahan bapak mereka dengan rasa hormat dan kasih.

Dalam kehidupan kemajelisan dan persekutuan gereja, kita dipanggil untuk meneladani sikap Sem dan Yafet. Pelayanan yang sehat tidak dibangun di atas sikap saling menghakimi atau menjatuhkan saat ada keterbatasan, melainkan saling menopang, bekerja sama, dan menutupi kekurangan rekan sepelayanan dengan kasih dan anugerah Kristus.

2. Melayani dari Kepenuhan Anugerah (Grace)

Panggilan melayani bukanlah beban yang bertumpu pada kekuatan moral atau kapasitas pribadi semata. Jika kita melayani dengan mengandalkan diri sendiri, kita akan mudah lelah dan mengalami kejenuhan (burnout). Namun, ketika kita menyadari bahwa kita diperlengkapi oleh anugerah, pelayanan menjadi aliran sukacita. Anugerah Allah (grace) itulah yang memberi kita hikmat, ketabahan, dan kemampuan untuk mengelola rumah Tuhan secara bijaksana, transparan, dan bertanggung jawab.

Susunan Majelis Jemaat GKMI Progo Periode 2026–2029

Dengan semangat penataan tata kelola (stewardship) dan efisiensi pelayanan, Majelis Jemaat periode 2026–2029 hadir dengan formasi yang ringkas dan fokus pada fungsi-fungsi inti:

  • Gembala Jemaat: Pdt. Nemueli Zega, S.Th.
  • Ketua: Pnt. Daniel Fipi Handoko
  • Sekretaris: Pnt. Stevy Roriwo Hangewa
  • Bendahara: Pnt. Julius Handoko
  • Bidang Pelayanan Kebaktian & Sakramen: Pnt. Bernadus Agus Winarna
  • Bidang Kesaksian: Pnt. Stefanus Agam Yulia Kartika
  • Bidang Diakonia: Dkn. Agustinus Hendy Julianto Nugroho
  • Bidang Rumah Tangga Gereja: Dkn. Febbry Insanu Majiid

Melangkah Bersama Membangun Rumah Tuhan

Memasuki masa bakti yang baru ini, Majelis GKMI Progo berkomitmen memegang teguh prinsip penatalayanan (stewardship) yang setia dan akuntabel. Fokus utama ke depan mencakup penataan kembali pilar-pilar pelayanan, memperkuat daya dukung bagi komisi-komisi kategorial, serta membangun persekutuan dan jangkauan kepedulian yang semakin nyata di tengah jemaat maupun masyarakat.

Gereja yang hidup dan bertumbuh dibangun atas dasar kasih Kristus dan partisipasi aktif seluruh warga jemaat. Sebagaimana ajaran tentang Imamat Am Orang Percaya (1 Petrus 2:9), setiap kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan sesuai dengan karunia masing-masing.

Mari kita dukung seluruh Penatua dan Diaken terpilih dalam doa dan kerja sama yang erat. Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, senantiasa memimpin, memelihara, dan memberkati setiap langkah penatalayanan kita bersama.

Selamat melayani Majelis Jemaat GKMI Progo Periode 2026–2029!

Soli Deo Gloria.

 

Majelis Jemaat Periode Tahun 2026-2029.

 

Sunday, June 21, 2015

Ketika di Persimpangan

(Keluaran 1:8-22)

Hidup tidak selamanya berjalan dengan mulus. Adakalanya orang harus melewati batu-batu besar atau kerikil-kerikil kecil. Adakalanya orang harus terpaksa meninggalkan singgasana kenyamanannya dan hidup dalam wilayah ketidaknyamanan. Dan itu semua dapat terjadi secara tiba-tiba. Tak seorangpun dapat menolak atau menghindar ketika pembalikan keadaan itu datang. Sikap yang terbaik adalah menerimanya dengan tulus dan menjalaninya dengan ikhlas.
Orang Israel tentu tidak pernah menyangka bahwa pada suatu masa akan datang seorang pemimpin Mesir yang sama sekali tidak mengenal Yusuf. Meski secara logika tidak masuk akal, karena Yusuf merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Mesir, namun inilah faktanya. Bahwa sungguh-sungguh telah muncul seorang Raja Mesir yang sama sekali tidak mengenal siapa Yusuf. Akibatnya, ia menganggap keturunan Yusuf tidak ubahnya seperti benalu yang merugikan orang-orang Mesir. Karena itulah maka ia menggunakan segala macam cara untuk membinasakannya. Caranya? Yakni dengan menindas semua orang Israel yang ada di Tanah Mesir. Maka sejak saat itu, kehidupan orang Israel benar-benar telah berubah.
Kini, Orang-orang Israel harus hidup di dalam kerja paksa dan tertindas. Sudah pasti semua itu tidak diharapkan oleh Orang Israel. Namun itu adalah realita hidup yang harus mereka jalani. 
Bp/Ibu/Sdr, seringkali kita juga dibawa oleh Tuhan masuk dalam situasi-situasi yang seperti ini. Inilah yang disebut sebagai “PERSIMPANGAN HIDUP.” Sebuah keadaan di mana kita dituntut untuk memilih sikap yang paling tepat, untuk dapat keluar dari berbagai pergumulan hidup. Memang tidak mudah! Tetapi bersama dengan Tuhan, kita pasti ditunjukkan jalan yang paling tepat dan terbaik. Sehingga kita sampai kepada tujuan yang kita impikan, yakni kemenangan.  PERSIMPANGAN BUKAN AKHIR HIDUP KITA, PERSIMPANGAN ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA JALAN TUHAN ADALAH JALAN YANG TERBAIK.


Sunday, June 14, 2015

Kunci Kesetiaan: Kejujuran

(Matius 26:69-75)

Dari perspektif penciptaan, secara teologi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah - Kejadian 1:26-27. Hal itu menegaskan bahwa manusia sempurna diciptakan oleh Allah, oleh karena itu manusia memiliki karakter yang sempurna. Salah satu karakter manusia ialah KEJUJURAN. Tetapi, setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka karakter manusia menjadi rusak. Manusia menjadi lebih suka bohong dari pada hidup jujur. Mengapa demikian? Karena kalau hidup jujur sudah pasti tidak akan mendapat untung. Sebaliknya, kalau bohong mendapat untung. Inilah paradigma yang sudah terbangun secara umum dalam diri manusia.
Cara pandang yang menganggap bahwa berbohong itu untung tentu tidaklah benar. Menurut Alkitab, bohong itu dosa, sehingga sebenarnya berbohong itu tidak ada untungnya. Iblis telah memutar-balikkan fakta karena memang dia adalah bapa pendusta dari mulanya. Jadi, seharusnya kita memutuskan untuk mulai berhenti berbohong dan berkatalah jujur. Karena, kalau kita jujur dijamin pasti ada untungnya.
Pertanyaannya ialah: "Apa untungnya kalau kita hidup jujur? Berikut beberapa keuntungan yang akan kita peroleh, bila kita hidup jujur. Pertama, Kejujuran mendatangkan ketenangan (Mzm 32:10-11 bdk Mat 26:69-70). Orang kalau bicaranya jujur dan hidupnya tulus, pasti mengalami ketenangan. Dan orang yang hidupnya tenang pasti lebih sehat, sehingga orang yang jujur kata Alkitab selalu bersorak-sorak. Kedua, Kejujuran membawa hidup yang lebih dekat dengan TUHAN Allah (Amsal 3:32 bdk Matius 26: 71-74b). Orang jujur hidupnya dekat sama TUHAN Allah. Me-ngapa? Karena di dalam TUHAN Allah tidak ada yang dusta. Di dalam TUHAN Allah tidak ada kemunafikan. Dikatakan demikian karena Dia adalah Allah yang benar dan di dalam Dia tidak ada ketidak-benaran. Ketiga, Kejujuran mendatangkan berkat yang luar biasa (Yesaya 33:15-16 bdk. Matius 26: 74b-75). Orang jujur hidupnya dijamin oleh TUHAN Allah. Di mana ada kejujuran, maka TUHAN Allah akan memerintahkan berkat-berkat-Nya ke dalam perbendaharaan atau ke dalam lumbung-lumbung atau ke dalam pundi-pundi orang-orang jujur. Keempat, Kejujuran pada akhirnya pasti melihat kemenangan besar - Mazmur 140:14; Amsal 2:21-22. Ketika kita bicara jujur dan berjalan dalam ketulusan tentunya kita akan menemui tantangan, hambatan, kesulitan dan sebagainya. Untuk sementara jalan orang jujur berat dan lambat. Kadang kala jalan yang ditempuh oleh orang jujur untuk sementara penuh onak dan duri. Tetapi, hasil akhirnya TUHAN Allah mendatangkan kemenangan yang besar bagi orang-orang jujur. Marilah kita belajar untuk hidup jujur dan dalam ketulusan. Patut diakui bahwa untuk hidup jujur memang tidak gampang. Tetapi, di manapun orang jujur berada mujizat dan kemenangan dari TUHAN Allah menyertainya, ke-setiaan kita pada Yesus semakin nyata. Amin


Sunday, June 7, 2015

Kunci Kesetiaan: Keterbukaan

(Yohanes 4:1-42)

Ibarat hubungan suami istri akan langgeng dan tercium aroma kesetiaan oleh karena satu dengan yang lain saling membuka diri. Keterbukaan adalah sarana untuk hidup subur dalam sebuah taman berkat dan kebahagiaan karena satu dengan yang lain saling mengerti dan memahami. Demikian juga dalam kehidupan kerohanian….!!! Setiap orang harus me-miliki hati yang terbuka kepada Allah. Terbuka terhadap kesalahan diri sendiri tetapi juga terbuka terhadap nasehat Firman Tuhan.
Yesus dalam percakapannya dengan seorang wanita Samaria, merupakan contoh masalah keterbukaan dari pandangan Alkitab. Keterbukaan membawa berkat dan kehidupan. Keterbukaan Yesus membawa perempuan Samaria juga terbuka kepada-Nya, yang menjadikan perempuan Samaria mampu bersaksi kepada publik. Yesus tidak langsung meminta perempuan Samaria itu untuk mengabarkan berita keselamatan kepada orang Samaria. Yesus secara pelan-pelan melayani perempuan Samaria itu sampai dia mengalami kebebasan melalui keterbukaannya. Setelah perempuan itu mengalami kebebasan, tanpa dimintapun dia bersaksi kepada orang lain. Hal ini sungguh luar biasa karena seorang wanita Samaria kafir yang tertutup menjadi seorang perempuan Samaria percaya yang terbuka.
Prinsip pertama yang dapat kita lihat adalah Yesus yang memulai membuka dirinya terhadap orang lain. Prinsip kedua, Yesus adalah seorang pemimpin yang penuh dengan integritas dan dapat dipercaya. Sedangkan dari pihak perempuan Samaria ini berani mengungkapkan seluruh kekurangannya di hadapan Tuhan dan bahkan bersedia untuk dikoreksi tanpa tersinggung oleh nasehat dari Tuhan Yesus.
Maka keterbukaan harus melibatkan dua pihak yang sedang berelasi dan berinteraksi. Bersama-sama untuk saling memberi dan menerima, demikian sebaliknya. Lihatlah lawatan Allah turun atasmu. Amin


Sunday, May 31, 2015

Yang Tak Layak di Hatinya

(Matius 10:34-42)

Ketika seseorang menjadi murid Yesus sebenarnya dia diperhadapkan dengan suatu masalah. Hal ini yang kadang-kadang bagi orang Kristen belum dipikirkan karena menjadi murid Kristen tidak senantiasa enak, tetapi banyak pahitnya. Marilah kita simak dan pelajari ayat-ayat ini:
1. Yesus menyodorkan pertentangan (34-37)
Perkataan Tuhan Yesus ayat 34 sangat mengejutkan. Mengupayakan perdamaian memang harus menjadi bagian hidup PR pengikut Yesus. Namun untuk mewujudkan damai justru sering menimbulkan konflik dan perpecahan. Maka kata “pedang” di sini tentu bukan berarti harafiah, melainkan metafora; pertentangan dan penderita.
2. Yesus memberi salib (38-39)
Ketika seseorang menjadi murid Kristus, ia diperhadapkan pada salib, penderitaan dan kesengsaraan. Sebagai pengikut Kristus kita harus berani mengorbankan ambisi dan kepentingan pribadi. Kita harus rela mengorbankan kemudahan, kenikmatan yang selama ini kita rasakan.
3. Yesus memberi upah
A) Upah nabi: Kita semua tidak bisa menjadi nabi yang berkhotbah memberitakan Firman Tuhan. Akan tetapi barangsiapa di antara kita yang menyebut Tuhan dengan ramah dan sukacita akan menerima upah yang sama besarnya dengan upah yang diperoleh oleh para nabi itu sendiri.
B) Upah orang benar.
Tidak semua kita bisa hidup benar dan menjadi contoh orang lain. Tetapi barangsiapa menolong dan membantu orang lain menjadi baik, akan menerima upah yang mulia.
(Ibu Wiwin)

Sunday, May 24, 2015

Menanti Pemulihan

(Kisah Rasul 2:1-4)

Terpuruk, gagal, kurang beruntung atau kurang berhasil adalah bukan kenyataan yang diinginkan oleh banyak orang. Tidak ada seorangpun yang ber-happyria karena terus menerus menjalani kehidupan yang penuh masalah dan ke-sulitan. Semua orang berupaya agar; usahanya, pekerjaannya, keluarganya, studinya, cita-citanya, kesehatannya tetap ter-jamin setiap waktu. Semua orang menghendaki yang terbaik tercurah dan melimpah dalam hidupnya.
Salah satu peristiwa yang bernilai sejarah dalam kehidupan kekristenan mula-mula adalah saat pencurahan Roh Kudus. Para murid dan jemaat mula-mula adalah orang-orang yang sebelumnya hidup dalam dilematika. Selama ini telah terbiasa bersama-sama dengan   Yesus, tetapi sekarang Yesus telah naik ke Surga dan meninggalkan mereka. Potensi untuk merasa kecewa, putus asa, dan ragu-ragu terbuka lebar…!!! Semangat yang dulu mulai berkurang, bahkan cenderung mati.
Namun, peristiwa pencurahan Roh Kudus telah menjadi titik awal kebangkitan dari segala bentuk keterpurukkan. Kuasa Roh Kudus telah memberikan kepada jemaat mula-mula, wibawa, keberanian memberitakan Injil, kuasa untuk mengusir setan, kuasa untuk me-nyembuhkan sakit penyakit, kuasa untuk bersatu hati, kuasa untuk mengelola keluarga dengan baik, kuasa untuk bertahan dan kuat dalam menghadapi tantang hidup dsb.
Roh Kudus menolong, menyertai, dan menuntun hidup kita. Apakah saya dan saudara termasuk pribadi yang sedang menanti pemulihan? Biarkanlah dirimu dipenuhi oleh Kuasa Roh Kudus dan terimalah Dia dalam hidupmu dengan iman yang penuh. Kita butuh doa, per-sekutuan, dan pujian agar kita tetap dipulihkan. Amin (Zega)