Sunday, July 15, 2012

Estetika Alam, Pujian bagi Sang Kekasih


(Kidung Agung 7:10-13)

            Pujian yang tulus, murni dan tidak manipulatif memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah relasi orang. Sangat berbeda dengan pujian yang manis di mulut namun pahit di hati. Pujian ini mengandung ketidakmurnian  dari pihak si pemuji.  Hal ini dapat mendatangkan kekeliruan pada si terpuji. Pujian yang tak tulus sering difungsikan sebagai alat untuk mencapai keinginan tertentu bagi si pemuji dalam rangka memanipulasi sesuatu. Sebaliknya pujian yang tulus berfungsi mengapresiasi si terpuji secara layak dan sejujur-jujurnya. Akibatnya, si terpuji terteguhkan dalam syukur tiada henti dan merasa dihargai.
            Para kekasih dalam drama Kidung Agung adalah sebuah ekspresi cinta yang disebutkan dalam bentuk puisi cinta. Dalam bahasa Ibrani cinta adalah “ahaba”, dan kata ini terkandung semua dimensi cinta yang meliputi aspek religius, seksual, fraternal dan domestik. Tentu sangat berbeda dengan cinta dalam bahasa Yunani yang dibagi menjadi 4 : “agape, fillia, eros, dan storge”.
            Ekspresi ahaba dalam Kidung Agung memakai bahasa metafora dengan media dunia tumbuhan. Sang kekasih memakai dunia flora ini untuk mengatakan kedalaman cintanya kepada kekasihnya. Mulai dari bagaimana cinta itu bertumbuh, bersemi dan akhirnya menikmati sebuah keindahan dan keharuman seperti  indahnya bunga pacar, indahnya kebun anggur dan kebun delima. Sungguh romantis sekali.
            Dalam bulan keluarga ini, hendaklah kita ekspresikan bahasa cinta kita kepada semua orang yang ada disekitar kita; dimulai dari keluarga (ayah, ibu dan anak), kemudian menjalar kepada lingkungan masyarakat kita (tetangga, kerabat, teman dsb), dan dikerjakan pula dalam gereja. Ekspresikan bahasa cinta itu dalam bentuk; kata-kata, tenaga, pikiran, atau materi. Semoga hari-hari kita dipenuhi oleh damai, cinta, kebahagiaan, dan keindahan. Semoga rumah tangga kita menjadi bak kebun buah-buahan, indah, segar, wangi, dan menggairahkan. Amin (Almanak Sinode GKMI)

Sunday, July 8, 2012

Belajar Berbagi Kehidupan dari Janda Sarfat


(1Raja-raja 17:7-24)

Kita dapat membayangkan betapa tidak mudahnya kehidupan janda Sarfat pada waktu itu. Ia hidup  dalam situasi yang sulit, kekeringan, sementara bahan makanannya sudah tinggal penghabisan untuk dimakan terakhir kalinya. Di titik kritis inilah janda Sarfat bertemu dengan Nabi Elia, yang mungkin belum dikenalinya sebagai abdi Allah. Nabi Elia meminta darinya tidak sekadar minum, tapi juga roti, padahal bahan untuk membuat roti hanya cukup untuk dirinya dan anaknya saja, cukup untuk sekali makan dan kemudian mati (ay 12).
Janda tersebut tetap memiliki hati yang berbelas kasihan dan mau menolong nabi Elia yang kelaparan. Dengan penuh iman diberikannya makanan buatnya untuk sang nabi. Dengan imannya perempuan ini mau menukar hal yang pasti (bahan makanan yang terukur hanya cukup untuk sekali makan) dengan hal yang tidak kelihatan (firman Tuhan yang disampaikan Nabi Elia, yang belum terjadi).Sebuah tindakan iman.
Janda Sarfat menaruh kepercayaannya hanya pada janji firman Allah. Sebuah ketangguhan hidup yang luar biasa. Barangkali janda tersebut bisa berpikir, kalau toh aku dan anakku harus mati karena kelaparan ini, tapi toh di hari terakhirku aku mau memberikan makananku agar Nabi Elia tidak mati. Seperti cinta seorang ibu yang rela berkorban demi kesuksesan anaknya. Seorang yang kalau harus mati, namun mati dengan penuh makna, karena bermanfaat bagi sesama.
Ketangguhan dan iman janda tersebut membuatnya mendapatkan makanan untuk beberapa waktu lamanya. Artinya, ia mendapatkan makanan setiap hari. Tiap-tiap hari tepung segenggam di tempayan dan sedikit minyak di buli-buli senantiasa ada untuknya membuat makanan hari demi hari. Tuhan menjawab kebutuhan dan kesusahan janda Sarfat ini. Mukjizat terjadi setiap hari, dimulai dari kesediaan hati janda Sarfat berbagi “kehidupan” lewat segenggam tepung dan sedikit minyak, dan keberaniannya beriman kepada janji pertolongan Allah melalui seorang abdi Allah.
Bagaimana dengan kesulitan hidup yang kita alami dalam kehidupan keluarga kita? Seringkali kita  menempatkan diri kita sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Saat kesulitan hidup mendera, pikiran kita hanya sibuk untuk memikirkan kesulitan diri kita sendiri. Tidak ada tempat bagi sesama kita, apalagi sesama yang kekurangan dan butuh uluran tangan kita. Hidup sendiri saja susah,boroboro memikirkan orang lain. Barangkali ini kata-kata yang sering kita dengar, atau mungkin kita ucapkan. Akibatnya kita cenderung apatis dan cuek terhadap penderitaan dan kesulitan orang lain.
Dari kisah janda Sarfat, kita belajar bahwa justru dengan kesediaan hati untuk berbagi kehidupan, bahkan berani beriman pada titik kritis hidupnya, disaat itulah mukjizat Allah terjadi. Pertolongan, penyertaan, dan berkat jasmani-Nya mengalir setiap hari, dengan cukup. Dalam kasih karunia-Nya, kesulitan hidup justru menjadi momentum untuk berbagi dan berbuat baik kepada sesama. Kalau toh hidup kita tinggal sesaat saja, marilah kita berupaya berbagi kehidupan untuk sesama, agar kematian kita menjadi kematian yang bermakna. Amin

Sunday, July 1, 2012

Belajar dari Yosua


(Yosua 1:1-9)

Dalam hidup ini, kita memerlukan tokoh. Tokoh yang bisa menjadi patron dan ikon. Patron berbicara mengenai pola atau sistem yang pas dengan konteks dan kebutuhan, sementara ikon berbicara mengenai representasi gambar dari pribadi yang ideal dan fungsional. Alkitab banyak menceritakan tokoh yang bisa menjadi patron dan ikon bagi hidup kita. Ketokohan itu senantiasa membangun nilai-nilai karakter yang tak akan lekang oleh perubahan zaman. Pribadi-pribadi yang berkarakter akan menjadi tokoh di sepanjang zaman. Membangun karakter dalam keluarga juga memerlukan tokoh. Pengajaran normatif harus tervisualisasikan dalam bentuk ketokohan dan keteladanan yang konkret.
Sebagaimana layaknya orang muda yang belum banyak makan asam garam pengalaman hidup, tentulah Yosua ragu saat dia harus menggantikan kepemimpinan Musa. Betapa tidak, Musa itu tokoh besar yang kharismanya tidak terbandingkan. Lalu apa yang dilakukan Yosua?
Pertama, Yosua sebagai orang muda menempatkan gambar patron hidupnya pada keteladanan Musa dan pada janji Allah. Inilah pentingnya keteladanan Musa bagi hidupnya. Kedua, Yosua sebagai anak muda juga punya kekuatan yang berbeda dengan Musa. Yosua mengembangkan kekuatan visionernya. Ketiga, Yosua juga perencana yang cermat. Keempat, Yosua bekerja dengan orang yang tepat. Kelima, Yosua membangun hidup keluarganya sebagai keluarga yang takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya.
Inilah yang bisa kita pelajari dari patron dan ikon tokoh Yosua. Ia bukan bertindak dalam kehebatan pribadinya melainkan ia bergerak dalam kuasa rencana dan pimpinan Allah. Sebagaimana nama Yosua berarti Allah yang menyelamatkan, kisah Yosua juga mencerminkan gambar (ikon) Allah yang menyelamatkan kita dan keluarga kita. Kisah Yosua tidak hanya berbicara mengenai penyelamatan Allah atas bangsa Israel, namun juga kisah penyelamatan Allah atas keluarga. Mari kita membangun hidup kita dan keluarga kita dengan : mencari desain Allah atas keluarga kita, dan berani untuk hidup ikhlas dan setia menjalani peran-peran yang Tuhan berikan kepada kita. Maka sungguh perjalanan hidup kita dan keluarga akan dibuat Tuhan berhasil dan beruntung. Tuhan memberkati!

Sunday, June 24, 2012

Akibat penebangan liar


Pada suatu hari ada seorang bapak sedang menebang pepohonan liar dan setelah itu, kayu yang dihasilkan dari pohon diambil oleh traktor dan segera di bawa keatas truk. 

Dan dari perbuatan tersebut banyak pemukiman yang terkena bencana banjir karena tempat peresapan air sudah dirusak oleh orang-orang penebang pohon dengan liar. Dan ada seekor hewan, yaitu kera yang tidak mempunyai tempat berlindung dan tidak punya bahan makanan untuk dimakan dan ada dua ekor gajah terlihat terbaring lesu karena tidak memiliki bahan makanan. 

Kemudian ada dua kakak-beradik mencanangkan gerakan reboisasi hutan dengan menanam tanaman-tanaman kembali sehingga pemukiman tidak terkena banjir lagi dan hewan kera dan gajah tidak kelaparan lagi.

(Edo & Gilbert)
Esai Anak Sekolah Minggu 

Mengenal Yesus Sahabat Orang-Orang Berdosa


(Yohanes 7: 53—8:1-11)
             
Sekalipun Tuhan Yesus tidak pernah melakukan dosa, Ia tidak pernah menjauhi orang berdosa. Sikap-Nya bertentangan dengan sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang bersikap menjauhi orang yang dianggap berdosa. Oleh karena itu, Ia disebut sebagai Sahabat Orang Berdosa. Orang berdosa umumnya merasa dirinya menjijikkan dan tidak layak untuk berdekatan dengan orang yang dianggap saleh. Oleh karena itu, merupakan suatu hal yang aneh dalam pandangan umum bahwa Tuhan Yesus (yang tidak pernah melakukan dosa) bersedia untuk bebincang-bincang atau duduk makan bersama dengan orang berdosa. Perumpamaan Tuhan Yesus tentang domba yang hilang (15:4-6), dirham yang hilang (15:8-9), dan anak yang hilang (15:11- 32) memberi gambaran bahwa orang berdosa itu berharga di mata Allah. Adanya satu orang berdosa yang mau bertobat pun sudah akan membuat para malaikat di sorga bersukacita (15:7, 10).
Misi-Nya datang ke dunia bukan untuk menghakimi atau menghukum, melainkan untuk mencintai dan mengasihi termasuk mengasihi orang yang berdosa sekalipun (seperti seorang perempuan yang berzinah). Yesus berkata : “aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Matius 9:13b). Hal ini mempermalukan para orang farisi dan ahli taurat pada saat itu, yang sok paling benar tetapi Yesus mengatakan bahwa mereka juga adalah orang yang berdosa dan membutuhkan pengampunan (Yoh. 8:7). Oleh karena itu, Yesus menghendaki  terjadi pertobatan dalam hidup setiap orang berdosa. Yesus berkata kepada perempuan itu: Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11)
Ada banyak orang yang terus terjerumus dalam dosa karena merasa bahwa mereka sudah terlalu jauh melenceng dari jalanTuhan. Sudah terlanjur basah, ceburkan saja sekalian. Begitu kira-kira pandangan mereka. Ada banyak orang yang ragu terhadap keselamatan mereka nanti, karena banyaknya pelanggaran yang pernah mereka lakukan. Banyak orang mengira bahwa Yesus membenci orang berdosa. Tapi kisah hari ini menggambarkan sebaliknya. Yesus tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosa, bukan orangnya. Justru kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari jurang maut. Yesus sangat mengasihi manusia yang berlumur dosa. Begitu mengasihi hingga Dia rela meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor domba yang sesat. (Lukas 15:4). Kehadiran Yesus justru untuk menyelamatkan orang-orang yang sesat, agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Amin. (Pdm. N.Zega)